Ilmu Pengetahuan Umum
rechaptha
Sabtu, 18 Februari 2017
Rabu, 09 November 2016
Tinja Bisa Menjadi Bahan Bakar Masa Depan
Masalah keterbatasan sumber daya alam yang tak terbarui telah mendorong para ilmuwan untuk melakukan penelitian tentang berbagai macam sumber energi alternatif, dan upaya tersebut kini membuahkan sebuah titik terang yang menjanjikan. Laboratorium nasional milik departemen energi pemerintah Amerika Serikat telah sukses mendapatkan terobosan penting yang memungkinkan mereka mengubah kotoran manusia menjadi bahan bakar alternatif.
Hal tersebut dimungkinkan lewat konversi endapan kotoran menjadi semacam minyak mentah yang dijuluki sebagai biocrude dengan cara memompa endapan kotoran tadi lewat sebuah tabung bertekanan tinggi. Salam tabung tersebut, kotoran bakal dipanaskan sampai 650 derajat Fahrenheit atau setara 343 derajat Celcius, lalu diperas dengan tekanan sekuat 3000 pound per inci persegi. Lemak yang ada dalam kotoran bakal melumasi jalur lintasan, dan hasil proses tadi adalah sebuah cairan serta minyak mentah yang kualitasnya bisa diolah hingga mendekati minyak tanah.
Metode tadi disebut sebagai pencairan hidrothermal; metode ini pada dasarnya mirip seperti proses perubahan bahan organik di dalam tanah menjadi minyak tanah yang berlangsung di kedalaman bumi selama jutaan tahun, namun dalam skala yang jauh lebih kecil serta diproses jauh lebih cepat. Metode serupa juga sempat digunakan oleh para ilmuwan di PNNL dalam menghasilkan bahan bakar dari alga pada beberapa tahun yang lalu.
Selama ini para ilmuwan sudah sering menjalanakn riset tentang mengubah kotoran menjadi sumber energi alternatif; para ilmuwan di Stanford sempat mengembangkan sebuah baterai mikroba dari kotoran di tahun 2013, sementara ilmuwan lain tengah bekerja keras mengubah kotoran menjadi gas metan, yang tak lain adalah komponen dalam gas alam. Sayangnya upaya ini masih belum juga membuahkan hasil signifikan.
Berbeda dari riset tersebut, para ilmuwan di PNNL yakin kalau metode baru ini bakal berhasil karena lebih efektif, dan memperkirakan kalau sekitar 60% karbon dalam endapan bakal menyudahi biocrude. Sekalipun bahan bakar ini bakal tetap menghasilkan emisi karbon dan polusi udara, namun kehadirannya bakal meminimalisir kebocoran dari pipa penyaluran, kebocoran selama pengiriman via kapal laut, ledakan di lokasi pengeboran minyak, juga praktik pertambangan yang destruktif.
Langganan:
Postingan (Atom)
